Seberapa Cocok Titan Bagi Kehidupan Manusia?

Titan, satelit alami terbesar milik planet Saturnus, merupakan sebuah bulan yang cukup unik. Ia merupakan satu-satunya bulan yang diketahui memiliki atmosfer padat, dan satu-satunya benda yang diketahui di luar angkasa selain Bumi yang memiliki bukti dari keberadaan cairan di permukaannya, bulan yang satu ini memiliki danau dan lautan, membuatnya begitu mirip dengan Bumi.

Ia pun memiliki atmosfer yang tebal, dengan tekanan sekitar 1,5 kali tekanan permukaan Bumi. Tak satu pun dari 177 bulan lainnya yang mengelilingi planet-planet di tata surya yang memiliki atmosfer seperti setebal itu. Atmosfer Titan yang tebal ini sangat menguntungkan, karena itu berarti kamu tidak perlu mengenakan baju astronaut bertekanan saat kamu berada di permukaan Titan.

Atmosfer Titan akan membantu kita bisa tetap bertahap hidup jika mendarat di sana. Di luar angkasa, radiasi sangat mematikan. Partikel energik dari Matahari, dan terutama sinar kosmik galaksi, dapat menembus jaringan tubuh manusia, menyebabkan kanker dan gangguan kognitif.

Di Mars, kamu dapat terpapar setara dengan 1.200.000 sinar-X setiap 17 menit. Untungnya, partikel-partikel yang merusak ini tidak dapat mencapai permukaan Titan. Saat partikel-partikel dari radiasi tersebut mencoba menembus Titan, mereka akan diserap oleh atmosfer.

Atmosfer Mars tidak cukup tebal untuk memberikan banyak perlindungan dari sinar kosmik galaksi. Manusia yang tinggal di Mars saat ini mungkin perlu tinggal di bawah tanahnya untuk melindungi diri dari radiasi, atau membangun habitat khusus yang memiliki perlindungan radiasi.

Sementara itu, orang-orang yang hidup di Titan dapat berjalan-jalan (atau, lebih tepatnya, memantul – karena gravitasi Titan hanya 14 persen dari gravitasi Bumi, sedikit lebih kecil daripada di Bulan) dengan mengenakan baju astronaut sederhana yang bisa membuat tubuh tetap hangat. Ya, Titan sangat dingin, suhu permukaan sekitar -180 derajat Celcius. Baju astronautnya pun juga harus dilengkapi respirator untuk menghirup oksigen, karena atmosfer Titan sebagian besarnya adalah nitrogen.

Suasana siang hari di Titan akan sedikit redup karena jaraknya yang jauh dari Matahari, kurang lebih akan seperti suasana setelah Matahari terbenam di Bumi. Dan menariknya, kalau kamu tinggal satu belahan Titan tertentu, langitmu akan selalu menghadap ke Saturnus karena Titan mengalami penguncian gravitasi dengan planet induknya tersebut.

Karena Titan sangat dingin, semua air di sana pun membeku. Danau dan laut di Titan berisi metana dan etana cair. Kedua hidrokarbon ini sangat melimpah di Titan, bahkan tidak hanya di danau dan laut, tetapi juga berada di atas seluruh permukaan dan di atmosfer Titan.

Hidrokarbon ini merupakan sumber bahan siap pakai untuk membuat bangunan dari plastik. Manusia dapat membakar metana untuk menghasilkan energi menggunakan reaktor nuklir untuk menggerakkan elektrolisis air (karena atmosfer Titan tidak mengandung oksigen yang kita perlukan untuk pembakaran metana).

Satu sumber energi yang menarik adalah energi angin. Para astronaut Titan nantinya dapat menggunakan turbin angin sebagai sumber energi alternatif karena kepadatan udara Titan kira-kira lima kali lipat dari Bumi, sehingga potensi tenaga angin sangat besar.

Meski begitu, ada banyak kendala yang juga harus diatasi, salah satunya adalah mempelajari bagaimana kita nantinya menanam tumbuhan sebagai bahan makanan di Titan menggunakan tanaman seperti yang kita lakukan di Bumi. Karena rupanya menanam di sana tidak akan efisien karena rendahnya cahaya Matahari yang mencapai permukaan Titan.

Apakah kamu tertarik tinggal di Titan?

 


Referensi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *